MRATODI

MRATODI

What i can share, i share

Breaking

Minggu, November 18, 2018

Let's Get Crossmarked

Minggu, November 18, 2018 0
Let's Get Crossmarked
Patti Smith performing in Finland, Photo by Beni Kohler, 2007 under CC BY-SA 3.0
Jika mendengar kata Crossref, maka yang terbersit dipikiran adalah Digital Object Identifier atau yang lebih dikenal dengan DOI. Bagi para pengelola jurnal, istilah DOI ini sudah sangat familiar. Tapi tahukah anda, DOI hanyalah satu dari sekian banyak layanan yang ditawarkan kepada para praktisi penerbitan karya ilmiah. Salah satu layanan yang dapat dicoba diterapkan dalan jurnal adalah Crossmark

Apa itu Crossmark?

Crossmark merupakan sebuah tools bagi pengelola jurnal untuk menempatkan berbagai macam informasi terupdate dari artikel yang telah terbit. Crossmark hadir dengan asumsi bahwa sains itu bukanlah sesuatu yang statis. Sains akan selalu berubah dan berkembang, sehingga publikasi ilmiah pun juga akan mengalami fenomena yang sama. Crossmark mengakomodir setiap perubahan atau pemutakhiran artikel, baik terkait kontent maupun status publikasinya itu sendiri dengan standar yang lebih baku. Jika anda mengunjungi jurnal-jurnal yang berada pada naungan publisher kelas kakap seperti Elsevier, maka anda akan menemui sebuah tombbol dengan gambar mirip pita (ribbon), itulah fitur Crossmark. Lebih detail tentang Crossmark dapat anda lihat pada video berikut




Satu pertanyaan yang sering saya temui adalah, apasih manfaatnya sebuah jurnal mengaktifkan layanan Crossmark di jurnalnya? apakah berpengaruh terhadap penilaian akreditasi Jurnal online?

Saya dengan tegas menjawab: "TIDAK"

Mengaktifkan fitur Crossmark tidak akan berdampak kepada penilaian Pengajuan Akreditasi Online Jurnal, karena sependek ingatan saya tidak ada pertanyaan yang menyinggung Crossmark, tapi masih sebatas DOI saja di Borang Akreditasi Jurnal.

Mengaktifkan fitur Crossmark merupakan bentuk pertanggungjawaban moral pengelola jurnal untuk menjamin terjalinnya komunikasi sains yang lebih terbuka dan transparan antara pengelola jurnal, author maupun para pembaca.  Setiap informasi dan pembaharuan terkait artikel (termasuk penarikan artikel) dapat dikomunikasikan dengan fitur Crossmark ini.

Jika anda tertarik untu menggunakan fitur Crossmark ini, panduan lengkapnya sudah dijelaskan oleh senior saya Mas Tanzil di www.forum.jurnalindonesia.org

So, what are you waiting for? Let's get Crossmarked together :)

Senin, November 21, 2016

Penghalang Rezeki

Senin, November 21, 2016 1
Penghalang Rezeki
Seorang pria sowan kepada Sayyidina Ali mengeluhkan kemiskinan dan kekurangan rezeki yang menimpanya.. 
Maka Sayyidina Ali bertanya dengan diikuti jawaban pria tersebut, 
Apakah kamu suka berbicara saat di kamar mandi ? "Tidak..." , jawabnya…
Apakah kamu suka menggigit kukumu ? "Tidak..."
Apakah kamu memanggil kedua orang-tuamu dengan nama mereka ? "Tidak..."
Apakah kamu membiarkan sampah bermalam dalam rumah ? "Tidak..."
Apakah kamu sering tidur tanpa wudhu ? "Tidak..."
Apakah kamu suka mendahului orang-tuamu ketika berjalan ? "Tidak.."
Apakah kamu sering menyapu rumah di malam hari? "Tidak..."
Apakah kamu memotong kuku di hari minggu? "Tidak.."
Apakah kamu sering anak-anakmu dengan kata-kata umpatan? "Tidak..."
Apakah kamu membuang ludah ketika berada di kamar mandi? "Tidak.."
Apakah kamu tidak membaca Bismillah sebelum makan dan tidak membaca Alhamdulillah sesudah makan? "Tidak...", jawab pria tersebut..

Kemudian Sayyidina Ali bertanya, Mungkin kamu tidak mendoakan kedua orangtuamu saat shalat..??"
Akhirnya pria itupun menjawab,"…Ya benar wahai Amirul Mu'miniin.. itulah kekurangan saya.."
******
Masya Alloh, ternyata begitu banyak perbuatan, yang sekilas terlihat sepele namun mampu menghalangi turunnya rizky dari Alloh SWT #istighfar

sumber gambar:doamustajab.com

Jumat, Mei 13, 2016

MASJID JAMI BAIT UR ROUF: PENDEKATAN ARSITEKTURAL UNTUK MEMAKMURKAN MASJID

Jumat, Mei 13, 2016 3
MASJID JAMI BAIT UR ROUF: PENDEKATAN ARSITEKTURAL UNTUK MEMAKMURKAN MASJID

Islam telah menganjurkan umatnya untuk memakmurkan masjid. Terminologi memakmurkan masjid menurut pemahaman awam saya ialah memaknai sebagai upaya “menghidupkan” geliat aktivitas umat, tidak sekedar aktivitas ibadah tetapi aktivitas sosial edukasi dan ekonomi kemasyarakatan, dan menekan pada aspek kualitas masjid lebih dari sekedar kuantitas masjid.

Dari sisi pengelolaan masjid berbagai cara dapat dilakukan untuk memakmurkan masjid, contohnya adalah Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Tapi bagaimana dari sisi Arsitektur? Menjadi tantangan bagi para arsitek adalah menghasilkan rancangan masjid dengan atmosfer yang mendukung setiap jenis dan fungsi kegiatan yang ada pada masjid itu sendiri serta berkontribusi terhadap usaha pemakmuran masjid. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana jalur mekanismenya? Pertanyaan ini sedikit tercerahkan saat saya melihat sebuah postingan di wall Facebook saya mengenai sebuah Masjid.

Adapun Masjid Jami Bait Ur Rouf yang terletak di distrik Faidabad Uttara, Kota Dhakka, Bangladesh yang menarik perhatian saya. Dirancang oleh seorang arsitek wanita bernama Marina Tabassum masjid ini yang terletak pada lahan seluas 7200 meter persegi ini menjadi salah satu karya arsitektur yang dinominasikan mendapatkan penghargaan Aga Khan Award.

tampak eksterior Masjid Jami Bait Ur Rouf
Pada masjid yang selesai dibangun pada tahun 2010 yang lalu ini tidak akan ditemukan kubah dan minareth layaknya pada masjid kebanyakan. Selain itu sang Arsitek sendiri menghindari penggunaan simbol agar ruang masjid tidak hanya digunakan sebagai sholat, tapi dapat digunakan untuk aktivitas sosial kemasyarakatan bagi jama’ahnya. Pemanfaatan cahaya dan banyak bukaan memungkinkan bangunan ini “bernafas” secara alami.

Karenanya masjid ini dianggap sebagai masjid yang ramah terhadap lingkungan. Lubang-lubang kecil pada bagian atap selain berfungsi sebagai sarana memasukkan cahaya ke dalam ruangan dan sirkulasi udara, juga mampu menciptakan kesan dinamis yang tidak monoton dengan permainan bayangan akibat pergerakan matahari yang tentunya sudah di perhitungan oleh sang arsitek.

suasana interior Masjid Jami Bait Ur Rouf
Denah Masjid Jami Bait Ur Rouf
Sang arsitek juga sangat menekan aspek spiritualism pada karya arsitekturalnya. Akses masuk ke ruang sholat dicapai dengan melalui semacam labirin yang dimaknai sebagai usaha untuk meninggalkan segala aspek keduniaan beserta hiruk pikuknya sebelum mencapai ruang utama. Ruang-ruang pada pada masjid Jami Bait Ur Rouf ini dirancangkan untuk menciptakan sense of high concentration, atau dengan istilah lain ke khusu’an.

Photocredit: Hasan Saifuddin Chandan