MRATODI

MRATODI

What i can share, i share

Breaking

Senin, Juni 22, 2020

Perlukah Publikasi Artikel Ilmiah di daftarkan HKI nya?

Senin, Juni 22, 2020 2
Perlukah Publikasi Artikel Ilmiah di daftarkan HKI nya?
sumber: wallpaperflare
Topik tersebut saya angkat berdasarkan pertanyaan yang selama ini berkutat di pikiran. Fenomena mendaftarkan tulisan karya ilmiah yang sudah terbit di jurnal ke negara kerap ditemui dan didengar dari penuturan para kolega saya.
Oleh karenanya saya mencoba menghubungi mbak Fitria, koordinator Creative Commons Indonesia, untuk mendapatkan pencerahan seputar bagaimana sebenarnya posisi kedudukan hak cipta karya ilmiah dalam perspektif hukum.
Dari diskusi singkat melalui pesan WA, kami sepakat bahwa landasan hukum yang digunakan terkait apa yang saya tanyakan adalah Undang-Undang no 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta (UUHC). Nah, salah satu tujuan dikeluarkannya undang-undang ini adalah untuk memberikan perlindungan hak cipta terhadap setiap karya atau ciptaan dari penciptanya.

Karya ilmiah, yang merupakan bagian dari kekayaan intelektual, memiliki sifat deklaratif. Artinya sesaat karya tersebut diumumkan ke publik, maka hak ciptanya otomatis melekat pada penciptanya (Pasal 1 ayat 1 UUHC) dan karenanya maka tidak diperlukan lagi untuk didaftarkan ke negara untuk medapatkan perlindungan hak cipta (Pasal 40 ayat 1 huruf a UUHC).
Berbeda dengan hak paten atau merk dagang, dimana keduanya memang harus dan wajib didaftarkan ke negara untuk mendapatkan perlindungan karya cipta dan hak dagang. Sayangnya, masih banyak dari kita yang belum bisa membedakan dan keliru dalam memperlakukan objek hak cipta, hak paten dan merk. Dengan didaftarkan atau tidak, artikel ilmiah sejatinya akan tetap secara otomatis mendapatkan perlindungan hak cipta dan secara legal terlindungi oleh payung hukum.

Jadi mari coba kita luruskan praktik-praktik yang terjadi selama ini, apakah tujuan dari didaftarkannya artikel ilmiah yang sudah terbit ke negara? apakah tujuannya untuk mendapatkan perlindungan hakcipta? (saya ragu dengan motif yang ini) atau sekedar tuntutan borang akreditasi?

Saya tidak akan menyalahkan borang akreditasi, asalkan pemenuhan indikatornya dipenuhi dari objek objek yang memang perlu dan selayaknya mendapatkan perlindungan hak cipta secara tepat  (semisal buku, paten, dsb)

Jadi, masih perlukah publikasi artikel ilmiah kita didaftarkan kembali untuk secarik kertas sertifikat?

Menurut saya sih tidk..entah dengan anda

Sabtu, Juni 06, 2020

Mengintip kondisi psikologis individu dari perilakunya di Whatsapp

Sabtu, Juni 06, 2020 2
Mengintip kondisi psikologis individu dari perilakunya di Whatsapp
Jika dahulu, gejala perilaku individu dapat dibaca melalui tulisan atau tanda tangan, maka di era digital ini ternyata kondisi psikologis seseorang dapat dibaca melalui pola perilaku dan kebiasaannya di media sosial, khususnya Whatsapp. Apa saja yang bisa kita pelajari? ini dia daftarnya
Sumber gambar: liveMint
  • Jika seseorang membalas chat anda hanya dengan menggunakan emotikon atau stiker tanpa kata-kata, besar kemungkinan menandakan yang bersangkutan ingin mengakhiri chat dengan anda. Whatsapp sendiri telah terbukti menjadi platform yang dianggap paling memadai berkenaan kemampuannya untuk memfasilitasi ekspresi negatif1.
  • Penggunaan emoticon BELUM TENTU mewakili perasaan yang sesungguhnya. Misal saat chat lawan bicara anda mengirimkan emoticon "Tertawa Ngakak", maka belum tentu ekspersi aslinya seperti itu. Mungkin saja partner chat anda mencoba menghargai guyonan anda misalnya. Dampak negatif dari penggunaan emotikon sendiri menurut penelitian diantaranya adalah kemampuannya untuk memicu permasalahan seputar interaksi sosial hingga spritual, apalagi jika digunakan secara berlebihan dan tidak pada konteksnya2. Dan tahukah anda, ternyata wanita cenderung lebih sering menggunakan emotikon dibandingkan pria lho3.
  • Orang-orang yang jarang memakai foto profil, atau tiba-tiba menghapus foto profil, bisa jadi dia sedang dalam kondisi tertimpa masalah dikehidupan nyatanya, atau mungkin tipe "tertutup", menjunjung tinggi sense of privacy, serta lebih nyaman dan secure dengan kondisi tanpa foto profil. Hal ini diperkuat dengan penelitian di tahun 2018  yang menyatakan adanya hubungan antara tampilan foto profil Whatsapp dengan perilaku dan sifat penggunanya4.
  • Ketika seseorang sedang menarik perhatian orang lain, umumnya hanya membagikan status kepada orang yang itu saja. Perilaku ini yang oleh Wee dan Lee disebut sebagai “seeking continued conctact”, dimana sesorang akan memutuskan siapa saja yang dalam kontaknya yang dirasa intim dan dapat memasuki ranah interaksi terbatasnya5.
  • Individu yang menggunakan foto profil dengan filter black and white, atau yang terkesan gelap biasanya sedang berusaha menggambarkan kondisi perasaannya saat itu. Orang yang seperti itu biasanya memiliki beban emosional yang besar. Kombinasi warna tersebut sering diasosiasikan dengan kedukaan atau rasa bersedih6.
  • Tanda seseorang tidak menyukai chat dari anda, biasanya hanya mebalas dengan singkat seperti "hmmm, ya, Ok atau bahkan hanya di read saja. Tapi bisa saja yang bersangkutan dalam kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan untuk typing terlalu panjang. Jadi berpikir positif lah, sekaligus tahu diri..hehehe
 
So, ada yang mau ditambahkan? feel free to add in the comment box
Referensi
  1. Waterloo, S. F., Baumgartner, S. E., Peter, J. & Valkenburg, P. M. Norms of online expressions of emotion: Comparing Facebook, Twitter, Instagram, and WhatsApp. New Media Soc. 20, 1813–1831 (2018).
  2. Yuan, Y. & Li, Z. The Positive and Negative Functions of Emoticons. Can. Soc. Sci. 15, 83–88 (2019).
  3. Al Rashdi, F. Forms And Functions Of Emojis In Whatsapp Interaction Among Omanis. Georgetown University-Graduate School of Arts & Sciences (Georgetown University, 2015).
  4. Ap, A., Shah, K., Thomas, A. & Shrivastava, M. Users’ Personality Traits Profiling based on their WhatsApp Display Pictures. J. Contemp. Trends Bussiness Inf. Technol. 4, 48–59 (2018).
  5. Wee, J. & Lee, J. With whom do you feel most intimate?: Exploring the quality of Facebook friendships in relation to similarities and interaction behaviors. PLoS ONE 12, (2017).
  6. Kaya, N. Relationship Between Color and Emotion: A Study of College Students. Coll. Stud. J. 38, 396–405 (2004).
Creative Commons License
All posted materials by MRATODI.NET is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.